Mengubah limbah menjadi produk bernilai, membuka peluang ekonomi, dan memberdayakan perempuan melalui kreativitas serta inovasi berkelanjutan.
Seratnusa mendapat kesempatan untuk berbagi perjalanan dan praktik baik dalam mengembangkan usaha berbasis ekonomi sirkular melalui program podcast UMKM Insight yang diselenggarakan oleh Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia.
Dalam episode bertema “Dari Sampah Jadi Cuan: Seratnusa Mengubah Limbah Jadi Produk Bernilai”, Gita Noerwardhani, Founder Seratnusa, diundang sebagai narasumber untuk menceritakan bagaimana gerakan pengelolaan sampah dapat berkembang menjadi sebuah usaha yang menghadirkan nilai ekonomi sekaligus memberikan dampak sosial dan lingkungan.
Podcast ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai perjalanan Seratnusa dalam mengolah limbah batang pisang menjadi bahan baku kerajinan, mengembangkan inovasi produk, serta membangun model bisnis yang melibatkan masyarakat.

Berawal dari Gerakan Bank Sampah
Perjalanan Seratnusa bermula pada tahun 2022, berangkat dari gerakan pengelolaan sampah yang dijalankan melalui kegiatan Bank Sampah.
Dari aktivitas tersebut, muncul perttanyaan sederhana: bagaimana para pengurus Bank sampah bisa memiliki tambahan pendapatan dan juga bagaimana pergerakan Bank Sampah dalam menangani sampah bisa berkelanjutan?
Salah satu potensi yang kemudian dikembangkan adalah batang pisang atau gedebog pisang. Material yang sering kali terabaikan setelah proses panen ini memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan baku produk kerajinan.
Dari sinilah Seratnusa mulai mengembangkan pendekatan waste to value, yaitu mengubah material sisa menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Bagi Seratnusa, pengelolaan sampah bukan hanya persoalan mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang dapat melibatkan masyarakat.
Dari Limbah Batang Pisang Menjadi Produk Kerajinan
Mengembangkan batang pisang sebagai bahan baku kerajinan bukanlah perjalanan yang berlangsung secara instan.
Pada awalnya, Seratnusa memiliki gagasan untuk mengolah limbah pisang menjadi kain. Namun, dalam proses pengembangan, pendekatan tersebut kemudian diarahkan pada pembuatan produk kerajinan berbasis serat dan teknik anyaman.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa inovasi membutuhkan proses eksplorasi, percobaan, dan keberanian untuk menyesuaikan arah ketika menghadapi tantangan.
Melalui pengembangan produk, Seratnusa menghadirkan berbagai karya kerajinan yang memadukan potensi serat alam dengan kreativitas para perajin.
Setiap produk menjadi bagian dari upaya untuk memperkenalkan alternatif pemanfaatan material alami sekaligus memperluas peluang ekonomi dari sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat.
Pemberdayaan Perempuan sebagai Bagian dari Model Bisnis
Salah satu aspek penting dalam perjalanan Seratnusa adalah keterlibatan masyarakat, khususnya perempuan perajin.
Dari proses produksi yang pada awalnya melibatkan delapan perajin, Seratnusa mengembangkan kegiatan pemberdayaan dengan melibatkan lebih banyak masyarakat dalam proses produksi dan pengembangan keterampilan.
Melalui kegiatan pendampingan, para perajin berkesempatan mengembangkan kemampuan, kreativitas, serta keterampilan dalam menghasilkan produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.
Bagi Seratnusa, pemberdayaan bukan sekadar menambah jumlah tenaga produksi. Lebih dari itu, pemberdayaan merupakan bagian dari upaya membangun kesempatan ekonomi melalui keterampilan yang dimiliki masyarakat.
Pendekatan ini menjadi salah satu fondasi dalam mengembangkan usaha yang tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada manusia dan lingkungan.
Membangun Bisnis yang Memberikan Dampak
Dalam podcast UMKM Insight, perjalanan Seratnusa juga menjadi kesempatan untuk membahas bagaimana usaha berbasis lingkungan dapat dikembangkan menjadi model bisnis yang berkelanjutan.
Pengelolaan limbah, pengembangan produk, pemberdayaan perajin, dan penguatan pasar merupakan bagian yang saling berkaitan dalam perjalanan usaha Seratnusa.
Melalui pendekatan ekonomi sirkular, Seratnusa berupaya menciptakan nilai dari material yang sebelumnya kurang dimanfaatkan, sekaligus membangun kegiatan ekonomi yang melibatkan masyarakat.
Pengalaman mengikuti program pengembangan usaha, termasuk Inkubasi Bisnis dalam program RuCLER (Rural Climate and Economic Resilience) dari WEA (Women’s Earth Alliance) yang juga membidani lahirnya Seratnusa, turut menjadi bagian dari perjalanan Seratnusa dalam memperkuat kapasitas bisnis dan mengembangkan model usaha yang lebih terstruktur.
Bagi Seratnusa, keberlanjutan usaha perlu berjalan seiring dengan kemampuan menciptakan nilai tambah, menjaga kualitas produk, memperluas pasar, dan mempertahankan dampak positif bagi masyarakat serta lingkungan.
Inovasi dan Kolaborasi untuk Masa Depan
Perjalanan Seratnusa tidak berhenti pada pengembangan produk kerajinan berbasis serat batang pisang.
Seratnusa juga mengembangkan riset material alternatif berupa banana fiber vegan leather melalui kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pengembangan material ini menjadi bagian dari eksplorasi pemanfaatan limbah dan inovasi bahan baku untuk membuka peluang produk baru.
Proses riset tersebut masih membutuhkan pengembangan dan penyempurnaan formula agar material dapat memenuhi kebutuhan penggunaan dan produksi.
Kolaborasi antara pelaku UMKM dan lembaga riset menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan potensi sumber daya lokal dengan pengembangan teknologi dan inovasi.
Bagi Seratnusa, inovasi merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan kesabaran, pembelajaran, dan kolaborasi.
Mengajak Masyarakat Memulai dari Hal Sederhana
Melalui kesempatan berbagi di podcast UMKM Insight, Seratnusa juga membawa pesan bahwa upaya mengurangi sampah dan menciptakan nilai dari lingkungan sekitar dapat dimulai dari langkah sederhana.
Masyarakat dapat mulai dengan lebih bijak dalam menggunakan barang, mengurangi sampah, memilah material yang masih dapat dimanfaatkan, serta melihat potensi dari sumber daya yang tersedia di sekitarnya.
Dalam konteks kewirausahaan, kreativitas dapat tumbuh dari kemampuan mengenali permasalahan dan menemukan peluang untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat.
Tidak semua ide usaha harus dimulai dengan teknologi yang kompleks atau investasi yang besar. Potensi lokal, keterampilan, dan kemauan untuk terus belajar dapat menjadi titik awal dalam mengembangkan usaha.
Dari Sampah Menjadi Harapan
Kehadiran Seratnusa dalam podcast UMKM Insight Kementerian UMKM menjadi kesempatan untuk memperkenalkan perjalanan sebuah usaha yang tumbuh dari gerakan lingkungan menuju pengembangan produk dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui pemanfaatan limbah batang pisang, pengembangan keterampilan perajin, serta eksplorasi inovasi material, Seratnusa terus berupaya membangun usaha yang menghubungkan kreativitas, nilai ekonomi, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ke depan, Seratnusa berharap dapat terus memperluas dampak pemberdayaan, mengembangkan inovasi produk berbasis material berkelanjutan, serta membuka lebih banyak peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.
Karena bagi Seratnusa, sampah bukanlah akhir dari sebuah proses. Dengan kreativitas, inovasi, dan kolaborasi, sesuatu yang terabaikan dapat menjadi awal dari nilai, peluang, dan harapan baru.
Ikuti perjalanan Seratnusa dan nantikan tayangan podcast UMKM Insight melalui kanal YouTube resmi Kementerian UMKM Republik Indonesia.