This report represents Seratnusa’s first Greenhouse Gas (GHG) inventory for the 2025
reporting year, developed based on the GHG Protocol Corporate Accounting and Reporting
Standard. The purpose of the report is to measure the company’s carbon footprint, identify the
main emission sources, and establish reduction strategies for the future.

 

Summary
• 11.65 mt CO₂e across all scopes in 2025
• 0.0058 mt CO₂e/product (11.65 mt CO₂e / 2,014 products produced/sold annually)
• Scope 3 dominates emissions at ~91% — Cat. 9 shipping (45.8%) and Cat. 1 purchased
goods (47.8%) are the hot spots
• Relatively low emissions due to banana fiber use poses a genuine sustainability advantage

 

This greenhouse gas inventory provides Seratnusa with its first comprehensive, data-driven
understanding of its emissions footprint, establishing a baseline of 11.64 metric tons CO2e
for the 2025 reporting year. The results clearly indicate that the company’s environmental
impact is concentrated in its value chain, with scope 3 emissions accounting for
approximately 90% of total emissions, driven primarily by material inputs and product
distribution.

This concentration presents a meaningful opportunity. Rather than requiring broad
operational changes, Seratnusa can achieve significant emissions reductions by focusing on a
few high-impact levers, including transportation mode shifts, material selection, and supply
chain optimization. These interventions are not only environmentally impactful but also align
with the company’s existing identity as a circular, sustainability-driven brand.

Semangat perempuan dalam membangun usaha berkelanjutan tampak dalam gelaran Women Ecopreneurs Market Day yang berlangsung di Sudamala Resort pada Sabtu, 9 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi wadah bagi perempuan pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia untuk memperkenalkan produk ramah lingkungan sekaligus memperluas jejaring dan akses pasar.

 

Acara tersebut merupakan bagian dari program Women Ecopreneurs Lab yang diinisiasi oleh Women’s Earth Alliance bersama Pratisara Bumi Foundation sebagai upaya mendukung pengembangan bisnis berkelanjutan yang dijalankan perempuan.

 

Sejak 2025, program ini telah mendampingi pelaku usaha perempuan dari berbagai wilayah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Yogyakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah untuk memperkuat bisnis yang berfokus pada dampak sosial dan lingkungan.

 

 

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 20 stan eco-market menampilkan beragam produk berbasis keberlanjutan, mulai dari produk hasil daur ulang, tekstil dengan pewarna alami, olahan pertanian lokal, hingga kerajinan tangan berbasis pemberdayaan perempuan. Selain pameran produk, acara juga menghadirkan sesi presentasi bisnis, lokakarya interaktif, penguatan jejaring usaha, serta pertunjukan musik.

 

 

Salah satu peserta yang turut ambil bagian adalah Seratnusa yang didirikan oleh Gita Noerwardhani. Usaha ini dikenal mengembangkan kerajinan berbahan limbah organik sekaligus memberdayakan masyarakat, khususnya perempuan.

 

Kegiatan Seratnusa dijalankan di Garut, Jawa Barat, dan Lampung dengan memanfaatkan limbah gedebog pisang menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi. Pendekatan tersebut tidak hanya membantu mengurangi limbah organik, tetapi juga membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat lokal dan komunitas bank sampah.

 

Gita Noerwardhani menyampaikan bahwa partisipasi Seratnusa dalam Women Ecopreneurs Market Day menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan produk lokal berbasis lingkungan kepada pasar yang lebih luas.

 

Menurutnya, limbah organik seperti gedebog pisang memiliki potensi ekonomi tinggi apabila diolah secara kreatif. Selain itu, Seratnusa juga ingin mendorong pemberdayaan masyarakat, terutama perempuan, agar memiliki peluang penghasilan tambahan melalui usaha berkelanjutan.

 

Ia menambahkan bahwa aktivitas Seratnusa di Garut dan Lampung tidak hanya berfokus pada produksi kerajinan, tetapi juga edukasi pengelolaan limbah dan penguatan ekonomi komunitas.

 

Bagi Gita, forum seperti Women Ecopreneurs Market Day menjadi ruang penting bagi perempuan pelaku usaha untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperluas jejaring bisnis berkelanjutan.

 

Ia berharap produk-produk lokal ramah lingkungan dari berbagai daerah dapat semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas, sekaligus memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar.

 

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong pola produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab, sekaligus menunjukkan semakin besarnya peran perempuan dalam membangun usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga membawa dampak sosial dan lingkungan.

 

Sumber berita: https://www.kabariku.com/2026/05/seratnusa-angkat-potensi-limbah-organik-di-women-ecopreneurs-market-day-bali/

 

Semangat pemberdayaan perempuan melalui usaha berkelanjutan terlihat dalam kegiatan Women Ecopreneurs Market Day yang digelar di Sudamala Resort pada 9 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ajang bagi pelaku usaha perempuan dari berbagai daerah di Indonesia untuk memperkenalkan produk ramah lingkungan sekaligus membangun jejaring pasar yang lebih luas.

 

Acara tersebut merupakan bagian dari program Women Ecopreneurs Lab yang digagas Women’s Earth Alliance bersama Pratisara Bumi Foundation guna mendukung pengembangan usaha berkelanjutan milik perempuan.

 

Sejak tahun 2025, peserta dari sejumlah daerah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Yogyakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah mendapatkan pendampingan untuk memperkuat bisnis yang berorientasi pada dampak sosial dan lingkungan.

 

Dalam kegiatan itu, sebanyak 20 stan eco-market menampilkan beragam produk berbasis keberlanjutan, mulai dari produk daur ulang, tekstil pewarna alami, hasil olahan pertanian lokal, hingga kerajinan tangan yang mengusung pemberdayaan perempuan.

 

Selain pameran produk, kegiatan juga diisi dengan sesi presentasi bisnis, lokakarya interaktif, penguatan jejaring usaha, hingga pertunjukan musik.

 

Salah satu peserta yang turut berpartisipasi adalah Seratnusa yang didirikan oleh Gita Noerwardhani. Usaha tersebut dikenal mengembangkan kerajinan berbahan limbah organik sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan.

 

Kegiatan Seratnusa dijalankan di wilayah Garut, Jawa Barat, dan Lampung dengan memanfaatkan limbah gedebog pisang menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi. Pendekatan tersebut tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang penghasilan bagi masyarakat lokal dan komunitas bank sampah.

 

Gita mengatakan keikutsertaan Seratnusa dalam Women Ecopreneurs Market Day menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan produk lokal berbasis lingkungan kepada pasar yang lebih luas.

 

“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik seperti gedebog pisang juga bisa memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah dengan kreatif. Selain itu, kami juga ingin memberdayakan masyarakat, khususnya perempuan, agar memiliki penghasilan tambahan,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, kegiatan Seratnusa di Garut dan Lampung tidak hanya berfokus pada produksi kerajinan, tetapi juga edukasi pengelolaan limbah dan penguatan ekonomi komunitas.

 

Menurutnya, forum seperti Women Ecopreneurs Market Day menjadi ruang penting bagi para pelaku usaha perempuan untuk saling belajar dan memperluas jejaring bisnis berkelanjutan.

 

“Kami berharap produk-produk lokal ramah lingkungan dari daerah bisa semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Yang paling penting, usaha ini bisa memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar,” katanya.

 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pola produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab sekaligus memperlihatkan semakin besarnya peran perempuan dalam membangun usaha yang tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga berdampak sosial dan lingkungan.

 

Sumber berita: https://suaragarut.id/seratnusa-angkat-potensi-limbah-organik-garut-dan-lampung-ke-ajang-nasional-1

Semangat kewirausahaan berbasis keberlanjutan dari komunitas perempuan akar rumput terlihat dalam gelaran Women Ecopreneurs Market Day yang diselenggarakan di Sudamala Resort pada 9 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi bagi perempuan pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia untuk memperkenalkan produk ramah lingkungan sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

Acara tersebut merupakan bagian dari program Women Ecopreneurs Lab yang diinisiasi oleh Women’s Earth Alliance bersama Pratisara Bumi Foundation guna mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan milik perempuan.

Sejak 2025, peserta dari berbagai wilayah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Yogyakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah mendapatkan pendampingan untuk memperkuat model bisnis yang berorientasi pada dampak sosial dan lingkungan.

Women Ecopreneurs Market Day menghadirkan 20 stan eco-market yang menampilkan beragam produk berbasis keberlanjutan, mulai dari produk hasil daur ulang, tekstil dengan pewarna alami, olahan hasil pertanian lokal, hingga kerajinan tangan berbasis pemberdayaan perempuan. Selain pameran produk, acara juga diramaikan dengan presentasi bisnis, lokakarya interaktif, sesi networking, hingga pertunjukan musik.

Salah satu peserta yang turut berpartisipasi adalah Seratnusa yang didirikan oleh Gita Noerwardhani. Usaha ini dikenal mengembangkan produk kerajinan berbasis limbah organik sekaligus memberdayakan masyarakat, khususnya perempuan.

Aktivitas Seratnusa sendiri dilakukan di wilayah Garut, Jawa Barat, serta Lampung dengan memanfaatkan limbah gedebog pisang menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.

Melalui pendekatan tersebut, Seratnusa tidak hanya berkontribusi dalam pengurangan limbah organik, tetapi juga menciptakan peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat lokal dan komunitas bank sampah.

Gita menyampaikan bahwa keikutsertaan Seratnusa dalam kegiatan ini menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan produk lokal berbasis lingkungan kepada audiens yang lebih luas.

Menurutnya, limbah organik seperti gedebog pisang memiliki potensi ekonomi yang tinggi apabila diolah secara kreatif. Selain itu, ia menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat, terutama perempuan, agar memiliki sumber penghasilan tambahan melalui kegiatan usaha berkelanjutan.

Ia juga menjelaskan bahwa aktivitas Seratnusa di Garut dan Lampung tidak hanya berfokus pada produksi kerajinan, tetapi juga mencakup edukasi pengelolaan limbah dan penguatan ekonomi komunitas.

Bagi Gita, kolaborasi antar perempuan pelaku usaha dalam forum seperti Women Ecopreneurs Market Day menjadi ruang penting untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperluas jejaring bisnis berkelanjutan.

Ia berharap produk-produk lokal ramah lingkungan dari berbagai daerah dapat semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas, sekaligus memberikan dampak sosial positif bagi masyarakat sekitar.

Kegiatan ini juga menjadi momentum penting dalam mendorong pola produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab serta menunjukkan semakin besarnya kontribusi perempuan dalam membangun usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga membawa dampak sosial dan lingkungan.

 

Sumber Artikel berjudul ” Women Ecopreneurs Market Day Jadi Ruang Tumbuh Bisnis Ramah Lingkungan Perempuan Indonesia “, selengkapnya dengan link: https://garut.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-5210200512/women-ecopreneurs-market-day-jadi-ruang-tumbuh-bisnis-ramah-lingkungan-perempuan-indonesia 

Women’s Earth Alliance bersama Pratisara Bumi Foundation menggelar Women Ecopreneurs Market Day di Sudamala Resort Sanur pada Jumat (9/5/2026). Kegiatan ini menjadi wadah bagi perempuan pelaku usaha berbasis keberlanjutan untuk memperkenalkan produk mereka, memperluas akses pasar, serta membangun koneksi dengan berbagai pihak.

 

Acara ini merupakan bagian dari program Women Ecopreneurs Lab, yaitu program pendampingan bisnis yang mendukung perempuan pengusaha dalam mengembangkan produk yang ramah terhadap sosial dan lingkungan.

 

Sejak 2025, program tersebut telah melibatkan perempuan pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Yogyakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah melalui pendekatan WEA Eco-Entrepreneurship Toolkit.

 

Perwakilan WEA Indonesia, Melisa, menyampaikan bahwa Market Day menjadi kesempatan nyata bagi perempuan pelaku usaha akar rumput untuk mengenalkan produk mereka langsung kepada konsumen.

 

Menurutnya, kegiatan ini memungkinkan para peserta melakukan riset pasar secara langsung, memperoleh masukan dari pembeli, sekaligus membuka peluang jejaring dan akses rantai pasok yang sebelumnya sulit dijangkau.

 

Sebanyak 20 stan eco-market turut meramaikan acara dengan menghadirkan produk dari para Women Ecopreneurs dan brand lokal Bali. Selain bazar produk, kegiatan juga diisi dengan presentasi bisnis dari lima pengusaha perempuan, lokakarya interaktif pewarnaan tekstil alami dan anyaman limbah gedebog pisang, sesi networking, hingga pertunjukan musik.

 

Produk yang dipamerkan menampilkan berbagai pendekatan keberlanjutan, mulai dari produk upcycle berbahan limbah, tekstil pewarna alami, hasil olahan pertanian lokal, hingga kerajinan yang berfokus pada pemberdayaan perempuan.

 

Salah satu peserta, Kriya Kite, membawa upaya pelestarian kain tradisional Jumputan Gambo khas Musi Banyuasin yang mulai jarang ditemukan. Founder Kriya Kite, Aziza, menilai akses pasar memiliki peran penting untuk menjaga semangat para perempuan pengrajin dalam terus berkarya.

 

Ia berharap produk lokal hasil karya para ibu pengrajin dapat semakin dikenal luas dan memiliki pasar yang tepat agar para pengrajin semakin termotivasi untuk terus memproduksi karya mereka.

 

Selain Kriya Kite, Seratnusa turut menampilkan produk kerajinan berbahan limbah gedebog pisang yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan bank sampah. Dari Sumatera Barat, SABAI menghadirkan sambal siap konsumsi yang dibuat dari hasil pertanian berkelanjutan di kawasan restorasi Bukik Pukek, Lembah Harau.

 

Sementara itu, SBK Sasirangan mengembangkan tekstil tradisional menggunakan pewarna alami sekaligus melakukan penanaman kembali tanaman bakau dan indigofera sebagai bahan baku. Giat by Sedusun juga menghadirkan produk fungsional berbahan material bekas seperti karung semen dan banner yang diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi.

 

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap dapat mendorong praktik produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 tentang konsumsi dan produksi berkelanjutan.

 

Dalam lima tahun terakhir, Pratisara Bumi Foundation telah bekerja di 28 provinsi di Indonesia dengan mendukung 98 pemimpin perempuan dan lebih dari 1.730 anak muda melalui program kepemimpinan, green skills, dan kewirausahaan berkelanjutan. Organisasi ini juga telah mendampingi 111 perusahaan sosial dan inisiatif komunitas yang memberikan dampak bagi lebih dari 4.136 orang serta berkontribusi pada penanaman hampir 9.000 pohon di berbagai wilayah Indonesia.

 

Sumber berita: https://swa.co.id/read/472368/women-ecopreneurs-market-day-jadi-ajang-perempuan-pelaku-usaha-berkelanjutan-perluas-pasar

Semangat perempuan pelaku usaha berkelanjutan dari berbagai wilayah di Indonesia bertemu dalam gelaran Women Ecopreneurs Market Day yang berlangsung di Sudamala Resort, Sanur, Bali, pada Jumat (9/5/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Women’s Earth Alliance bersama Pratisara Bumi Foundation ini menjadi wadah bagi bisnis ramah lingkungan untuk memperluas pasar, memperkenalkan produk, serta membangun jejaring kolaborasi yang lebih luas.

 

Acara tersebut merupakan bagian dari program Women Ecopreneurs Lab, sebuah program pendampingan bisnis yang mendukung perempuan pelaku usaha dalam mengembangkan produk yang berdampak sosial dan lingkungan. Sejak 2025, peserta dari berbagai daerah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Yogyakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah telah mengikuti pelatihan berbasis WEA Eco-Entrepreneurship Toolkit.

 

Melalui program ini, para peserta tidak hanya didorong untuk mengembangkan produk, tetapi juga memperkuat model bisnis serta menilai praktik keberlanjutan usaha mereka melalui Eco-checklist yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.

 

Women Ecopreneurs Market Day menghadirkan 20 stan eco-market yang diisi oleh para ecopreneurs binaan WEA dan berbagai brand lokal Bali. Acara juga diramaikan dengan presentasi bisnis dari lima pengusaha perempuan, lokakarya interaktif pewarnaan tekstil alami dan anyaman limbah gedebog pisang, sesi networking, hingga pertunjukan musik langsung.

 

Produk-produk yang ditampilkan membawa semangat keberlanjutan melalui pendekatan yang beragam, mulai dari pemanfaatan limbah daur ulang, tekstil pewarna alami, pengolahan hasil pertanian lokal, hingga kerajinan berbasis pemberdayaan perempuan.

 

Salah satu usaha yang menarik perhatian adalah Seratnusa dari Lampung yang mengolah limbah gedebog pisang menjadi produk kerajinan bernilai guna melalui kolaborasi dengan bank sampah. Selain itu, SABAI dari Sumatera Barat menghadirkan sambal siap konsumsi berbahan cabai hasil pertanian restoratif untuk pasar urban.

 

Kriya Kite dari Sumatera Selatan turut memperkenalkan kain tradisional Jumputan Gambo khas Musi Banyuasin melalui produk fesyen dan dekorasi rumah berbasis budaya berkelanjutan. Dari Kalimantan Selatan, SBK Sasirangan mengembangkan kain tradisional dengan pewarna alami sambil memberdayakan perempuan lokal dan melakukan penanaman kembali tanaman bakau serta indigofera. Sementara itu, Giat by Sedusun dari Yogyakarta memanfaatkan limbah karung semen dan banner menjadi produk fungsional berbasis upcycle untuk mendukung ekonomi desa.

 

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong praktik produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 mengenai konsumsi dan produksi berkelanjutan.

 

Sebagai organisasi non-profit, Pratisara Bumi Foundation berfokus mendukung perempuan dan anak muda di komunitas akar rumput untuk menciptakan solusi lokal bagi pembangunan berkelanjutan. Dalam lima tahun terakhir, organisasi ini telah menjangkau 28 provinsi di Indonesia dengan mendukung 98 pemimpin perempuan dan lebih dari 1.730 anak muda melalui program kepemimpinan, green skills, dan kewirausahaan berkelanjutan.

 

Selain itu, PBF juga telah mendampingi 111 perusahaan sosial dan inisiatif komunitas yang memberikan dampak kepada lebih dari 4.136 orang, sekaligus berkontribusi pada penanaman hampir 9.000 pohon di berbagai wilayah Indonesia.

 

Sumber berita: https://balitopik.com/women-ecopreneurs-market-day-ruang-baru-perempuan-pelaku-bisnis-hijau-tembus-pasar-lebih-luas/

 

View this post on Instagram

 

A post shared by SUARA ANDA, KAMI BERITAKAN (@suaragarut.id)

UMKM Seratnusa di Garut mengolah limbah organik berupa gedebog pisang menjadi produk kerajinan berupa home decor dan aksesoris dengan memberdayakan delapan perajin perempuan.

Penulis: Nuzulia Nur Rahma
Editor: Andesta Herli Wijaya

JAKARTA – Iklim tropis memungkinkan pohon pisang tumbuh subur di Indonesia. Potensi pisang sangat besar, begitu pula dengan pohonnya atau gedebog pisang. Sayangnya, kebanyakan gedebog pisang hanya dianggap sebagai limbah dan dibuang begitu saja. Sehingga, limbahnya sangat mengganggu lingkungan.

Berangkat dari kondisi itu, UMKM Seratnusa di Garut mengolah limbah organik berupa gedebog pisang menjadi produk kerajinan berupa home decor dan aksesoris dengan memberdayakan delapan perajin perempuan.

Semula, dalam proses produksi, Seratnusa masih menghadapi permasalahan, yakni proses ekstraksi serat gedebog pisang masih dilakukan secara semi-manual. Hal itu menyebabkan efisiensi produksi rendah dan kualitas serat yang dihasilkan belum seragam.

Selain itu, pewarnaan alami dengan menggunakan ekstrak kentang untuk menghilangkan komponen lignin, juga belum optimal. Harga ekstrak kentang masih relatif mahal dan menyebabkan serat menjadi seperti bentuk pulp.

Dari situ, Seratnusa berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui program Pendampingan Usaha Mikro berbasis Iptek (PUMI), untuk membantu dalam mengatasi permasalahan yang dimiliki UMKM. Pendampingan dilakukan sejak April 2025, dimulai dengan rangkaian diskusi guna mengidentifikasi masalah UMKM.

Setelah itu dilanjutkan dengan praktik penerapan teknologi pengepresan dan pewarnaan gedebog pisang di Bank Sampah Rapekan, Kp. Naringgul, Desa Pakuwon, Kecamatan Cisurupan, Garut. Dalam proses ini, para pelaku usaha mendapat pendampingan ahli dalam hal pengolahan gedebog pisang secara lebih efisien dan terstandar.

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah BRIN, Driszal Fryantoni menyampaikan bahwa para periset BRIN telah menghasilkan banyak hasil riset dan inovasi. Maka itu, kolaborasi bersama UMKM menjadi salah satu langkah yang tepat agar hasil-hasil inovasi itu bisa berdampak nyata di akar rumput.

“Sehingga, alangkah baiknya jika kegiatan riset yang sebetulnya didanai oleh uang rakyat, hasilnya dapat dimanfaatkan oleh rakyat, termasuk para UMKM,” ucap Driszal dalam pernyataan resmi, dikutip Selasa (8/7).

Driszal menyebut, pendampingan ini menghasilkan rekomendasi untuk perbaikan kualitas dan produktivitas. Dalam penerapannya, BRIN dan UMKM bisa memodifikasi alat yang sudah ada, atau pendampingan juga bisa menghasilkan pengadaan alat baru, jika UMKM nantinya bisa mendapatkan dukungan pendanaan dari pemerintah.

“Kami tidak memberikan bantuan dalam bentuk modal, tidak memberikan bantuan dalam bentuk peralatan. Sehingga, diperlukan sinergi dengan stakeholder lainnya, baik Kementerian maupun Dinas setempat untuk bersama-sama memperkuat UMKM agar mereka bisa naik kelas,” tegas Driszal.

Sukma Surya Kusumah selaku periset pendamping dari BRIN mengungkapkan bahwa banyak potensi yang bisa dikembangkan dari serat pisang ini agar memiliki nilai tambah. Maka menurutnya terbuka peluang kedepannya untuk pihaknya dan UMKM berkolaborasi mengembangkan potensi tersebut.

Sumber berita: https://validnews.id/kultura/umkm-di-garut-olah-limbah-gadebog-pisang-jadi-aksesoris

SuaraGarut.id – Sebuah inovasi menarik lahir dari Kampung Naringgul, Desa Pakuwon, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Lewat kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayasan Serat Nusa, serta komunitas lokal, limbah pertanian berupa batang pisang diolah menjadi serat alami yang bernilai jual tinggi dan berpeluang menembus pasar global.

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan UMKM BRIN, Driszal Fryantoni, menjelaskan bahwa kegiatan ini bagian dari program Koleksi Bumi. Program ini bertujuan membantu UMKM menemukan solusi berbasis teknologi agar bisa meningkatkan kualitas dan produktivitas usaha.

“Di sini permasalahannya sederhana, bagaimana membuat ketebalan serat pisang bisa seragam karena selama ini diolah manual. Kalau pekerjanya lelah, ketebalannya jadi tidak konsisten. Kami bantu dengan teknologi pengepresan dan pengeringan agar kualitasnya standar. Pewarnaan pun menggunakan bahan alami seperti daun jati, sehingga ramah lingkungan,” jelas Driszal.

Pendekatan yang dilakukan BRIN tidak sekadar menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga membantu masyarakat memahami pentingnya standarisasi produk jika ingin naik kelas ke pasar nasional maupun global.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Sukma Surya Kusmah, mengatakan bahwa riset pengolahan serat pisang ini sudah dilakukan sejak sekitar tiga tahun lalu. Inovasinya pun telah didaftarkan hak kekayaan intelektualnya.

“Prosesnya sederhana, tapi selama ini masyarakat belum tahu bagaimana standarisasi ketebalan seratnya. Kita bantu dengan proses pelunakan batang pisang, dikukus, dipress, lalu diberi pewarna alami sebelum dikeringkan dan disayat menjadi serat. Dengan cara ini hasilnya lebih seragam dan efisien,” ujar Sukma.

Menurut Sukma, apresiasi dari masyarakat sangat positif. Inovasi ini memudahkan mereka yang sebelumnya hanya mengandalkan alat manual dan hasilnya tidak stabil. Ia berharap ke depan akan lahir lebih banyak inovasi berbasis limbah organik yang bisa dimanfaatkan masyarakat luas.

Ketua Yayasan Serat Nusa, Gita Noerwardhani, menceritakan bahwa upaya mengolah limbah pisang berawal dari gerakan bank sampah di Garut. Namun, seiring waktu ia melihat bahwa hanya mengelola sampah saja tidak cukup menopang ekonomi pengurus bank sampah.
“Akhirnya saya berpikir bagaimana caranya supaya gerakan ini berkelanjutan. Dari situ saya mulai kembangkan limbah menjadi serat kerajinan. Awalnya memang ingin sampai jadi kain, tapi prosesnya panjang, jadi kita mulai dari produk kerajinan dulu,” kata Gita.

Kolaborasi dengan BRIN menjadi kunci untuk membantu standarisasi bahan baku. Gita mengaku awalnya sempat ragu karena BRIN dikenal banyak mengurusi riset pangan. Namun setelah melalui proses kurasi, Serat Nusa berhasil terpilih dan mendapatkan pendampingan teknologi.
“Sekarang saya sudah punya kolaborasi pentahelix: ada komunitas, akademisi seperti Telkom University, pemerintah lewat BRIN, dan media. Tinggal bagaimana kita rawat kolaborasi ini ke depan,” jelas Gita.

Sementara itu, Ketua Organisasi Rapekan Kampung Naringgul, Deni Susanto, yang sudah mengelola bank sampah sejak 2013, berharap program ini bisa meningkatkan pemberdayaan masyarakat.

“Dulu kita mulai dari kelompok swadaya masyarakat, sekarang sudah jadi kelompok pemanfaatan dan pengelolaan limbah. Harapannya ke depan terbentuk UMKM-UMKM inovatif yang memanfaatkan limbah pertanian jadi produk bernilai ekonomi,” kata Deni.

Melalui inovasi berbasis riset dan kolaborasi lintas sektor ini, Kampung Naringgul membuktikan bahwa dari limbah yang tak dilirik orang, bisa lahir produk berkualitas yang membuka jalan kesejahteraan bagi masyarakat.***

Sumber berita: https://suaragarut.id/brin-bersama-serat-nusa-dan-warga-kampung-naringgul-garut-ubah-sampah-jadi-serat-bernilai-ekspor

TechnologyIndonesia.id – Gedebog pisang biasanya hanya dianggap sebagai limbah dan dibuang begitu saja. UMKM Seratnusa di Garut mengolah gedebog pisang menjadi produk kerajinan berupa home decor dan aksesoris dengan memberdayakan delapan perajin perempuan.

Dalam proses produksi, Seratnusa masih menghadapi permasalahan, yakni proses ekstraksi serat gedebog pisang masih dilakukan secara semi-manual. Kendala itu menyebabkan efisiensi produksi rendah dan kualitas serat yang dihasilkan belum seragam.

Selain itu, pewarnaan alami masih belum optimal dengan menggunakan ekstrak kentang untuk menghilangkan komponen lignin. Akan tetapi, harga ekstrak kentang masih relatif mahal dan menyebabkan serat menjadi seperti bentuk pulp.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui program Pendampingan Usaha Mikro berbasis Iptek (PUMI) membantu dalam mengatasi permasalahan UMKM Seratnusa. Pendampingan dilakukan sejak April 2025, dimulai dengan rangkaian diskusi guna mengidentifikasi masalah UMKM.

Selanjutnya, penerapan teknologi pengepresan dan pewarnaan gedebog pisang di Bank Sampah Rapekan, Kp. Naringgul, Desa Pakuwon, Kecamatan Cisurupan, Garut, 3-4 Juli 2025.

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah BRIN, Driszal Fryantoni menyampaikan bahwa para periset BRIN telah menghasilkan banyak hasil riset dan inovasi.

“Sehingga, alangkah baiknya jika kegiatan riset yang sebetulnya didanai oleh uang rakyat, hasilnya dapat dimanfaatkan oleh rakyat, termasuk para UMKM,” ucap Driszal.

Driszal menyebut, pendampingan ini menghasilkan rekomendasi untuk perbaikan kualitas dan produktivitas. Namun, Program FUMI tidak memberikan bantuan dalam bentuk modal, tidak memberikan bantuan dalam bentuk peralatan.

Karena itu, menurut Driszal diperlukan sinergi dengan stakeholder lainnya, baik Kementerian maupun Dinas setempat untuk bersama-sama memperkuat UMKM agar mereka bisa naik kelas.

Pendampingan yang diberikan kepada pelaku UMKM Seratnusa mendapat tanggapan positif dari Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Kabupaten Garut, Ridwan Effendi.

“Apa yang dilakukan di Bank Sampah Rapekan pada hari ini dengan pendampingan dari BRIN dapat menjadi contoh bagi desa lain dalam menangani permasalahan limbah sampah, tertutama gedebog pisang”, ujar Ridwan.

Sukma Surya Kusumah selaku periset pendamping dari BRIN mengungkapkan bahwa banyak potensi yang bisa dikembangkan dari serat pisang ini agar memiliki nilai tambah.

“Ke depannya, kami mengajak Seratnusa bisa bersama-sama dengan para periset di Pusat Riset Biomassa Bioproduk BRIN mengembangkan potensi ini,” ucap Sukma.

Owner Seratnusa, Gita, menyampaikan kekagumannya terhadap pendampingan ini. “Saya tidak pernah menyangka bahwa bahan baku gedebog pisang ini bisa diseragamkan ketebalannya dan berharap dapat terus didampingi BRIN dalam pengembangan inovasi-inovasi baru, terutama berbahan baku gedebog pisang,” ujar Gita.

Kegiatan pendampingan diakhiri dengan audiensi ke Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina. Ia berharap BRIN bisa memberikan solusi terkait permasalahan limbah kerajinan kulit yang berpotensi mencemari lingkungan di Garut. (Sumber: brin.go.id)